Kita
tidak akan membahas Angry Bird dan Produk Nokia yang berasal dari negara beribu kota
Helsinki di benua Eropa Utara ini. Tapi kita akan membahas bagaimana sistem pendidikan di sana
sehingga membuat siswa siswinya cinta belajar dan bagaimana mereka bisa mengangkat
negara Finlandia menjadi Negara pendidikan terbaik sedunia. Beberapa kebijakan-kebijakan
dalam sistem
pendidikan di negara itu mungkin bisa diterapkan oleh Lamongan , sehingga suatu saat
Lamongan menjadi kabupaten dengan pendidikan terbaik di Indonesia dan menjadi suri
teladan kabupaten lain.
Pertama,
pemerintahan
Finlandia memberi maternity package yang berisi 3 buku bacaan untuk
ibu, ayah, dan bayi itu sendiri untuk setiap kelahiran bayi. Hal ini sangat
perlu dilakukan mengingat bahwa pendidikan pertama seorang anak didapat dari
keluarga. Jika si orang tua tidak bisa membaca, maka bisa diganti dengan video
yang bisa di operasikan ke tape yang tersambung dengan TV atau komputer.
Kedua, di sana guru dituntut untuk professional, buktinya guru
menghabiskan 4 jam sehari di dalam kelas, dan mengambil 2 jam seminggu untuk
“pengembangan profesional”. Di Lamongan istilah pengembangan profesional sering disebut dengan sertifikasi, seminar, diklat, dsb. Seharusnya
guru-guru Lamongan diwajibkan mengikuti
sertifikasi atau seminar beberapa kali dalam setahun untuk
meningkatkan kualitasnya. Sehingga guru-guru tersebut dapat memotivasi murid-muridnya untuk cinta
belajar.
Ketiga,
guru Finlandia tidak pernah
mengkritik siswanya dengan kalimat,”Kamu
salah!”. Hal itu tidak dilakukan karena kritik itu bisa membuat siswa malu,
ketika siswa malu maka akan menghambat proses belajar. Seharusnya guru Lamongan
dibatasi dalam mengkritik siswanya. Di kelas acap kali ditemui siswa yang tingkat
keaktifannya berkurang akibat kritik dari guru yang terlalu ceplas ceplos.
Keempat,
sejak kecil siswa Finlandia selalu diajari untuk mengevaluasi diri
sendiri. Siswa diajari bertanggung jawab atas kemampuan yang ia miliki. Berbeda
dengan pendidikan di Lamongan yang mewajibkan guru memberikan evaluasi kepada
siswa sesering mungkin meski siswa siap atau tidak siap menghadapinya. Hal itu
membuat siswa akan lebih terobsesi untuk mencari nilai saja. Akibatnya terkadang
anak didik Lamongan lebih suka melakukan beberapa bentuk kecurangan saat ujian.
Kelima,
PR jarang diberikan oleh guru Finlandia, saat memberi PR pun, siswa
tidak dituntut untuk menjawab benar, yang penting sudah berusaha. Ujian hanya diberikan saat siswa sudah
berusia 16 tahun. Selain ujian wajib pada usia 16 tahun,
terdapat sedikit ujian dengan
tanggal ujian yang bisa ditentukan oleh dirinya sendiri ketika sudah siap menjalankannya.
Kalaupun remidi, mereka hanya menganggap sebagai suatu kesempatan untuk mencoba
lagi. Sebaliknya, di Lamongan remidi cenderung dianggap sebagai kegagalan siswa
dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal.
Keenam,
siswa Finlandia diajari sistem
belajar bersama-sama. Tidak ada persaingan diantara mereka. Fakta di Lamongan, persaingan
hanya dicintai oleh siswa-siswa yang menonjol di kelas. Hal itu membuat beberapa guru terfokus pada beberapa
siswa saja. Contohnya saat guru menunjuk siswa untuk maju
di depan kelas. Beberapa guru yang kurang bijaksana biasanya subjektif dalam pemilihan
itu. Siswa yang kurang pintar jarang bahkan tak pernah maju. Alasan yang mereka
berikan adalah, saya menunjuk yang pintar
supaya yang lain mencontoh. Mereka tidak memikirkan siswa-siswa lain yang
tak pernah mendapat posisi itu. Hal tersebut memancing timbulnya iri dan
dengki.
Ketujuh,
kelas sains di Finlandia maksimal 20 siswa sehingga
mereka dapat melakukan eksperimen praktis setiap kelas. Sementara di beberapa sekolah di Lamongan, siswa satu kelas jumlahnya mencapai
40 orang. Beberapa siswa terkadang pasrah terhadap nasibnya. Ada yang mendapat
bangku pojok, sehingga sangat jauh dari papan dan tidak bisa mendengarkan
penjelasan guru dengan baik. Ketika praktikum, siswa yang tidak aktif akan
ketinggalan dari siswa lain. Beberapa peralatan yang dipakai hanya cukup untuk
beberapa siswa saja.
Dari beberapa uraian di atas, pada intinya guru-guru Finlandia selalu berusaha untuk membuat anak didiknya cinta belajar. Di
Lamongan masih digancarkan kata-kata belajar adalah kewajiban, sehingga
terdengar lebih berat untuk dilakukan. Seharusnya digancarkan belajar adalah
kebutuhan kita sebagaimana pendidikan yang selalu ditanamkan pada anak didik
Finlandia.
Di samping beberapa kekurangan Lamongan di atas,
terdapat banyak sekali kelebihan pendidikan Lamongan yang tidak ada di
Finlandia. Beberapa di antaranya yaitu : KBM dengan memakai seragam untuk
menghindari kesenjangan sosial antara siswa, pendidikan sopan santun sehingga
saking sopannya terapat kepercayaan kental masyarakat Lamongan
yaitu percaya terhadap “Barokah Guru”, hal ini akan menjadikan guru berwibawa
dihadapan para siswa. siswa pun lebih menjaga sikapnya di hadapan guru.
Sehingga di Lamongan jarang ditemukan konflik siswa dan guru.
Beberapa usaha harus
kita lakukan. Salah satu contoh usaha yaitu yang dilakukan oleh Tabloid Lensa Lamongan melalui tulisan-tulisannya selalu menginspirasi
siswa siswi Lamongan untuk lebih berkualitas dan lebih mencintai belajar. Itu
adalah salah satu usaha yang patut kita contoh.
Referensi :
1. http://ayahkita.blogspot.com/2013/10/mengapa-dunia-mengakui-finlandia.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar