Sabtu, 25 Juni 2016

Lamongan Ala Finlandia

Kita tidak akan membahas Angry Bird dan Produk Nokia yang berasal dari negara beribu kota Helsinki di benua Eropa Utara ini. Tapi kita akan membahas bagaimana sistem pendidikan di sana sehingga membuat siswa siswinya cinta belajar dan bagaimana mereka bisa mengangkat negara Finlandia menjadi Negara pendidikan terbaik sedunia. Beberapa kebijakan-kebijakan dalam sistem pendidikan di negara itu mungkin bisa diterapkan oleh Lamongan , sehingga suatu saat Lamongan menjadi kabupaten dengan pendidikan terbaik di Indonesia dan menjadi suri teladan kabupaten lain.
Pertama, pemerintahan Finlandia memberi maternity package yang berisi 3 buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri untuk setiap kelahiran bayi. Hal ini sangat perlu dilakukan mengingat bahwa pendidikan pertama seorang anak didapat dari keluarga. Jika si orang tua tidak bisa membaca, maka bisa diganti dengan video yang bisa di operasikan ke tape yang tersambung dengan TV atau komputer.
Kedua, di sana guru dituntut untuk professional, buktinya guru menghabiskan 4 jam sehari di dalam kelas, dan mengambil 2 jam seminggu untuk “pengembangan profesional”. Di Lamongan istilah pengembangan profesional  sering disebut dengan sertifikasi, seminar, diklat, dsb.  Seharusnya guru-guru Lamongan diwajibkan mengikuti sertifikasi atau seminar beberapa kali dalam setahun untuk meningkatkan kualitasnya. Sehingga guru-guru tersebut dapat memotivasi murid-muridnya untuk cinta belajar.
Ketiga, guru Finlandia tidak pernah mengkritik siswanya dengan kalimat,”Kamu salah!”. Hal itu tidak dilakukan karena kritik itu bisa membuat siswa malu, ketika siswa malu maka akan menghambat proses belajar. Seharusnya guru Lamongan dibatasi dalam mengkritik siswanya. Di kelas acap kali ditemui siswa yang tingkat keaktifannya berkurang akibat kritik dari guru yang terlalu ceplas ceplos.
Keempat, sejak kecil siswa Finlandia selalu diajari untuk mengevaluasi diri sendiri. Siswa diajari bertanggung jawab atas kemampuan yang ia miliki. Berbeda dengan pendidikan di Lamongan yang mewajibkan guru memberikan evaluasi kepada siswa sesering mungkin meski siswa siap atau tidak siap menghadapinya. Hal itu membuat siswa akan lebih terobsesi untuk mencari nilai saja. Akibatnya terkadang anak didik Lamongan lebih suka melakukan beberapa bentuk kecurangan saat ujian.
Kelima, PR jarang diberikan oleh guru Finlandia, saat memberi PR pun, siswa tidak dituntut untuk menjawab benar, yang penting sudah berusaha. Ujian hanya diberikan saat siswa sudah berusia 16 tahun. Selain ujian wajib pada usia 16 tahun, terdapat sedikit ujian dengan tanggal ujian yang bisa ditentukan oleh dirinya sendiri ketika sudah siap menjalankannya. Kalaupun remidi, mereka hanya menganggap sebagai suatu kesempatan untuk mencoba lagi. Sebaliknya, di Lamongan remidi cenderung dianggap sebagai kegagalan siswa dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal.
Keenam, siswa Finlandia diajari sistem belajar bersama-sama. Tidak ada persaingan diantara mereka. Fakta di Lamongan, persaingan hanya dicintai oleh siswa-siswa yang menonjol di kelas. Hal itu membuat beberapa guru terfokus pada beberapa siswa saja. Contohnya saat guru menunjuk siswa untuk maju di depan kelas. Beberapa guru yang kurang bijaksana biasanya subjektif dalam pemilihan itu. Siswa yang kurang pintar jarang bahkan tak pernah maju. Alasan yang mereka berikan adalah, saya menunjuk yang pintar supaya yang lain mencontoh. Mereka tidak memikirkan siswa-siswa lain yang tak pernah mendapat posisi itu. Hal tersebut memancing timbulnya iri dan dengki.
Ketujuh, kelas sains di Finlandia maksimal 20 siswa sehingga mereka dapat melakukan eksperimen praktis setiap kelas. Sementara di beberapa sekolah di Lamongan, siswa satu kelas jumlahnya mencapai 40 orang. Beberapa siswa terkadang pasrah terhadap nasibnya. Ada yang mendapat bangku pojok, sehingga sangat jauh dari papan dan tidak bisa mendengarkan penjelasan guru dengan baik. Ketika praktikum, siswa yang tidak aktif akan ketinggalan dari siswa lain. Beberapa peralatan yang dipakai hanya cukup untuk beberapa siswa saja.
Dari beberapa uraian di atas, pada intinya guru-guru Finlandia selalu berusaha untuk membuat anak didiknya cinta belajar. Di Lamongan masih digancarkan kata-kata belajar adalah kewajiban, sehingga terdengar lebih berat untuk dilakukan. Seharusnya digancarkan belajar adalah kebutuhan kita sebagaimana pendidikan yang selalu ditanamkan pada anak didik Finlandia.
Di samping beberapa kekurangan Lamongan di atas, terdapat banyak sekali kelebihan pendidikan Lamongan yang tidak ada di Finlandia. Beberapa di antaranya yaitu : KBM dengan memakai seragam untuk menghindari kesenjangan sosial antara siswa, pendidikan sopan santun sehingga saking sopannya terapat kepercayaan kental masyarakat Lamongan yaitu percaya terhadap “Barokah Guru”, hal ini akan menjadikan guru berwibawa dihadapan para siswa. siswa pun lebih menjaga sikapnya di hadapan guru. Sehingga di Lamongan jarang ditemukan konflik siswa dan guru.
Beberapa usaha harus kita lakukan. Salah satu contoh usaha yaitu yang dilakukan oleh Tabloid Lensa Lamongan melalui tulisan-tulisannya selalu menginspirasi siswa siswi Lamongan untuk lebih berkualitas dan lebih mencintai belajar. Itu adalah salah satu usaha yang patut kita contoh.
Referensi :
1.       http://ayahkita.blogspot.com/2013/10/mengapa-dunia-mengakui-finlandia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar